ahmadhidayat.com Ahmad loves to write. A rare talkative person whose love writing the most. Immunology enthusiast.

Kunang-Kunang Kenangan

kunang-kunang kenangan


Di lorong ini, ia berdiri mematung. Manik matanya melirik kiri dan ke kanan, kadang ke atas pun sesekali ke bawah. Mengamati cahaya seekor kunang-kunang, mengikuti ke mana hewan itu terbang. Bibirnya tersenyum, namun matanya menyungging sendu. Sendu yang ia rasakan belakangan ini, yang teramat dalam, seolah tiada lagi yang lebih dalam.

Wajahnya yang pias, seharusnya menarik perhatian orang-orang yang berlalu-lalang. Namun nyatanya, orang-orang tak ada yang barang sedikit menegur atau barang sekadar menanyakan gerangan apakah yang membuatnya berdiri di lorong ini, malam hari, seorang diri. Padahal, sama sekali pemuda itu tak memagari dirinya dengan tabir rahasia. Pagar yang membatasi dirinya untuk bercerita.

Mujur tiba menimpa. Seorang gadis berkulit putih, berpakaian serba putih, lengkap dengan kap perawat yang terpagut di kepala, menghampiri pemuda yang sedang asyik dengan kunang-kunangnya.

“Permisi,” sapa gadis itu dengan tersenyum.

Pemuda berambut ikal itu sedikit tersentak, merasa agak terkesiap. Pun buyarlah lamunan kunang-kunang dan segala tentangnya. Lalu, ia menengok cepat ke arah sumber suara.

“Ya,” jawab sang lelaki pengamat kunang-kunang yang sebetulnya sempat menggerutu di dalam kalbu. Namun, sebab diperolehnya seorang perawat cantik dengan rambut panjang hitam tergerai hingga menutupi lekuk payudaranya, pun lengkap dengan senyuman manis ala gadis-gadis, maka, tak jadi sebal, pemuda itu lantas membalas senyuman indah yang menancap di kedua matanya itu dengan senyuman pula.

“Kenapa Anda merenung di sini? Bukankah seharusnya Anda berada di dalam ruangan?” Gadis itu bertanya dengan tatapan yang tajam.

“Ah, iya. Saya cuman lagi tertarik dengan kunang-kunang itu,” jawab sang pemuda sambil menunjuk dengan jari telunjuk ke arah kunang-kunang yang hinggap di sebuah batu.

“Ehm. Ada apa dengan kunang-kunang, bukannya dia cuma serangga biasa seperti serangga yang lainnya, kan?”

Kali ini pemuda beraut pias itu menatap gadis berpakaian perawat yang berada di depannya. Diamatinya wajah gadis perawat itu lebih detail; alis yang sedikit tebal, hidung yang mungil, dan bibir yang tipis.

“Bagiku, kunang-kunang seperti harapan,” jawab sang pemuda mantap.

Ucapan yang sontak membuat penasaran, tentu bagi si gadis perawat yang sedari tadi belum memperkenalkan diri. Sejenak, kelengangan melanda mereka berdua. Meski masih ada beberapa orang yang berjalan lalu-lalang, tapi tetap saja tak ada yang menghiraukan.

“Baiklah, semoga Anda bersedia saya baca,” tegas gadis perawat. Mendadak, mata gadis itu berubah menjadi lebih tajam, teramat tajam, seolah tiada yang lebih tajam. Kedua mata mereka bertemu, menyusup sendu….

***

Atas nama malam pertama di awal tahun ini, keduanya bukanlah pluviophile[1] yang mencintai petrichor[2]. Mereka berdua hanya sedang berada di pucuk kedilemaan. Meski dihiasi guyuran hujan deras, tetaplah keduanya tak beranjak dari tempat mereka berdiri sekarang.

“Sudah kubilang, lebih baik hubungan kita diakhiri saja, Dir!”

Dirga menggeleng-gelengkan kepalanya seakan tiada percaya bahwa peristiwa ini benar-benar terjadi. Kejadian yang ia pernah ramalkan betul-betul menjadi kenyataan.

“Lalu, apa alasannya?”

Lucy menunduk. Telapaknya mengepal, lengannya bergetar. Tetesan air mata mulai keluar dari mata Lucy. Yang kemudian, tetesan-tetesan itu akan nampak hilang karena menyatu dengan air yang sedari tadi menghunjam dari atas langit. Hatinya berdesir menahan getir.

“Nggak ada alasannya, Dir—”

“Pasti ada!” sergah Dirga dengan teriakan yang cukup keras.

Kali ini Lucy benar-benar tak sanggup jikalau rahasia itu berlama-lama ia simpan. Sampai kapan? Lalu, dengan segala sesak yang menyelimuti dada, pun dengan bibir yang mulai membiru, dikatakanlah yang sebenar-benarnya.

“Aku dijodohkan,” jawab Lucy singkat.

“Cih!?” Dirga membuang muka, seakan ini adalah alasan yang antiklimaks baginya. Dalih yang kurang masuk akal, mengada-ada.

“Teori macam apa lagi ini, hah?” Dirga mengangguk-anggukan kepalanya seraya menyeringai. Pun, ia melanjutkan, “Mustahil bisa kamu dijodohkan. Bukankah kita dipertemukan karena kanker otak yang sama. Bahkan kita tak pernah tahu, berapa lama lagi kita hidup di dunia ini kan? Tak usah mengarang cerita!”

Perlahan, Lucy mendongakkan kepala. Mengumpulkan segala keberanian menatap mata orang yang berdiri di depannya walau ia sedang membuang muka. Orang yang mungkin akan selalu Lucy cintai selama hidupnya.

“Ini ujian bagi kita, kan? Juga bukti bahwa ayah-ibuku masih punya harapan yang besar kepadaku.” Lucy menghentikan perkataannya sejenak, menghela napas, lalu melanjutkan meski ketidakrelaan menggenangi pikirannya, “Sadarlah Dir, masih banyak perempuan-perempuan di luar sana yang sudah pasti jauh lebih baik dari aku.”

“Tapi… tapi apa kamu sudah lupa dengan janji-janji yang telah kita bicarakan dulu?” sahut Dirga sambil mengembalikan pandangannya ke arah Lucy. Dirga menelan ludah. Suaranya melirih.

“Luciferin. Kamu tahu arti namaku, kan? Luciferin yang membuat kunang-kunang bercahaya.” Suara Lucy tertahan sejenak, matanya tak bisa lepas dari tatapan Dirga. “Jika aku mati nanti, aku ingin jadi kunang-kunang untukmu. Dan kamu… kamu selalu menjadi Dirgantara untukku.”

Dirga tercenung mendengar pernyataan Lucy. Sungguh berlawanan jika katakanlah guyuran air selalu membebaskan orang yang terlalu dalam melamun, kali ini Dirga malah mampu termangu sepenggal waktu. Hati yang dirundung cinta memang tak berlogika. Walau hujan deras terus menerpa, meski tubuh sama-sama menggigil, gigi-gigi saling bergeletuk, bibir bergetar, dan hati yang serasa runtuh, mereka tetap menjejakkan kaki di sana.

“Ma-maafkan—”

Belum sempat Lucy menghabiskan kalimatnya, Dirga mendekap Lucy erat. Erat sekali. Dirasakannya dalam-dalam perasaan Lucy walau hanya lewat terkaan saja. Mungkin keteraturan napas dan penolakan kecil bisa menjadi jawabannya. Sebab keduanya tiada terjadi, itulah yang menimbulkan getaran-getaran dari dalam dada. Perlahan tapi pasti, denyutan-denyutan aneh yang semakin lama semakin tak kepalang tanggung itu seakan menggedor-gedor ingin keluar menemani mereka berdua, menyelimuti keduanya, mendedah emosi, meninggalkan nurani, hingga melahirkan birahi. Lantas, setelah pelukan itu lepas, kepala mereka pun berhadapan, saling memandangi satu sama lain. Mata Dirga menajam seolah menghunus tanpa ampun pupil mata kekasihnya yang membesar. Dan perasaan Lucy mulai tidak keruan. Napasnya secara tak teratur berhamburan, pun jantung-jantung terasa berdetak jauh lebih cepat dari biasanya, lebih kencang dari biasanya. Tanpa kesepakatan, akhirnya kedua bibir insan itu pun berpagutan, saling melumat penyesalan, merajut kenangan. Keduanya memejam seiring jiwa yang bersatu. Jiwa yang beputar, berpusing seperti balerina yang sedang menunjukkan kelihaiannya. Hingga sebegitu kencangnya berputar, akhirnya mereka terbang jauh, teramat jauh, seolah tiada lagi yang lebih jauh.

***

            “Lalu, hari ini tepat sebulan Lucy meninggal kan, Dir? Di rumah sakit lain, setelah rumah sakit ini tak sanggup menanganinya?” Sang perawat cantik menanyakan sesuatu yang sebetulnya sudah ia ketahui kepada sang pemuda yang tak lain bernama Dirga.

Dirga terbelalak. Kali ini ia benar-benar tersentak. Tak habis pikir, bagaimana gadis itu bisa tahu semuanya.

“Se-sebenarnya, siapa Anda?” tanya Dirga dengan terbata-bata.

Gadis perawat itu hanya tersenyum seakan tak pernah terjadi apa-apa. Alangkah paradoksnya dengan kepala Dirga yang seolah terbelah menjadi dua oleh arit yang berbentuk tanda tanya.

“Baiklah. Saya tahu Anda masih punya harapan besar bertemu Lucy, akan saya sampaikan padanya. Atau, sebetulnya Anda pun bisa menemuinya sendiri, di rumah sakit tempat ia meninggal. Jangan mendekam di rumah sakit ini terus, dong. Ah, apalagi di ruang mayat. Apa enaknya?” pungkas gadis itu sambil mengerlingkan mata kemudian membalikkan badannya.

Gadis perawat itu lantas beranjak dari tempat Dirga. Berjalan perlahan, sambil terkekeh-kekeh, menyusuri lorong yang kini telah sepi. Melayang. Tak menapak lantai. Lalu melesap di antara kegelapan malam. Gelap yang teramat gelap, seolah tiada lagi yang lebih gelap.

Satu hal, sebetulnya gadis itu pun tahu. Bahwa kunang-kunang yang terbang, adalah selalu kunang-kunang jantan. Sebutlah nama panjangnya: Luciferin Hardiyanto. Dan Dirga melesak terbang untuk segera menemuinya.

ahmadhidayat.com Ahmad loves to write. A rare talkative person whose love writing the most. Immunology enthusiast.

Bakwan: Hasil Imajinasi yang Tidak Liar

Sebelum diracik oleh seorang koki, pada mulanya bakwan hanyalah sekantung terigu, seonggok kol, dan sekaleng minyak sayur. Koki itulah yang kemudian meramunya menjadi masakan...
ahmadhidayat.com
1 min read

Berkhalwat dengan Laptop

Berkhalwat dengan Laptop – Tidak ada pengaruh bila seorang penulis duduk di kafe maupun trotoar; dalam keadaan ramai maupun sepi, ketika dia berdua dengan...
ahmadhidayat.com
1 min read

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *