ahmadhidayat.com Ahmad loves to write. A rare talkative person whose love writing the most. Immunology enthusiast.

Kutengok Hari Ibu 22 Desember Besok

Ada hal yang kemudian muncul dalam pemikiran kritisku tentang peringatan hari ibu di Indonesia yang begitu mencengangkan. Dorongan akan hal itu yang membuatku untuk memberikan sedikit pemahaman yang juga kugali dari beberapa referensi yang mutlak.
Bukan karena ku anggap cara memperingati hari ibu sekarang salah. Namun kuhanya menekankan kepada pembaca bahwa esok tanggal 22 Desember 2016 adalah peringatan hari ibu sesuai dengan esensinya. Kuharapkan para kaum muda mudi saat ini bisa membuka matanya selebar mungkin dan tidak seperti lebar daun mangga saja. Apa yang kemudian dikatakan sejarah tidak boleh luntur dan rusak oleh paham-paham impor yang sesat.
Selayaknya kita harus memahami makna sesungguhnya sebagai perwujudan mengingat jasa perjuangan kaum perempuan agar tidak dipandang sebelah mata yaitu emansipasinya.
Dalam catatan sejarah yang kudapatkan, sebaiknya pembaca menyimak sekelumit ringkasan sejarah perjuangan perempuan dan alhasil di tetapkannya peringatan tersebut.
“Hari Ibu di Indonesia dirayakan secara nasional pada tanggal 22 Desember. Tanggal ini diresmikan oleh Presiden Soekarno di bawah Dekrit Presiden No. 316 thn. 1953, pada ulang tahun ke-25 Kongres Perempuan Indonesia 1928. Tanggal tersebut dipilih untuk merayakan semangat wanita Indonesia dan untuk meningkatkan kesadaran berbangsa dan bernegara. Kini, arti Hari Ibu telah banyak berubah, dimana hari tersebut kini diperingati dengan menyatakan rasa cinta terhadap kaum ibu. Orang-orang saling bertukar hadiah dan menyelenggarakan berbagai acara dan kompetisi, seperti lomba memasak dan memakai kebaya.
Hari Ibu di Indonesia dirayakan pada ulang tahun hari pembukaan Kongres Perempuan Indonesia yang pertama, yang digelar dari 22 hingga 25 Desember 1928. Kongres ini diselenggarakan di sebuah gedung bernama Dalem Jayadipuran, yang kini merupaakan kantor Balai Pelestarian Sejarah dan Nilai Tradisional di Jl. Brigjen Katamso, Yogyakarta. Kongres ini dihadiri sekitar 30 organisasi wanita dari 12 kota di Jawa dan Sumatera. Di Indonesia, organisasi wanita telah ada sejak 1912, terinspirasi oleh pahlawan-pahlawan wanita Indonesia di abad ke-19 seperti Kartini, Martha Christina Tiahahu, Cut Nyak Meutia, Maria Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Ahmad Dahlan, Rasuna Said, dan sebagainya. Kongres dimaksudkan untuk meningkatkan hak-hak perempuan di bidang pendidikan dan pernikahan.
Indonesia juga merayakan Hari Kartini pada 21 April, untuk mengenang aktivis wanita Raden Ajeng Kartini. Ini merupakan perayaan terhadap emansipasi perempuan. Peringatan tanggal ini diresmikan pada Kongres Perempuan Indonesia 1938. Pada saat Presiden Soekarno menetapkan Kartini sebagai pahlawan nasional emansipasi wanita dan hari lahir Kartini sebagai memperingati hari emansipasi wanita nasional. Tetapi banyak warga Indonesia yang memprotes dengan berbagai alasan diantaranya Kartini hanya berjuang di Jepara dan Rembang, Kartini lebih pro Belanda dari pada tokoh wanita seperti Cut Nyak Dien, dll. Karena Soekarno sudah terlanjur menetapkan Hari Kartini maka Soekarno berpikir bagaimana cara memperingati pahlawan wanita selain Kartini seperti Martha Christina Tiahahu, Cut Nyak Meutia, Maria Walanda Maramis, Dewi Sartika, Nyai Ahmad Dahlan, Rasuna Said, dll. Akhirnya Soekarno memutuskan membuat Hari Ibu Nasional sebagai hari mengenang pahlawan wanita alias pahlawan kaum ibu-ibu dan seluruh warga Indonesia menyetujuinya”.
Nah, dari ringkasan tersebut kuhanya bisa mengatakan bahwa perubahan pola pikir yang mewabah di masyarakat sudah sangat bergeser. Hal ini tidak terlepas dari beberapa frame media yang mengkonstruksi esensi dari peringatan 22 Desember tersebut. Semua itu terjadi karena pergolakan politik yang ada di negeri era reformasi.
Umumnya masyarakat hanya mengingat  bahwa hari ibu itu adalah momen terima kasih kepada ibu biologisnya semata dan lahirlah kemudian metode peringatan yang aneh-aneh menurutku. Padahal dilihat dari sejarah menurut apa yang kudapatkan bahwa paradigma tersebut adalah impor dari negera Amerika Serikat menurutku. Sebagaimana yang termuat di wikipedia “Hari ibu di Amerika Serikat dirayakan pertama kali pada tahun 1908, ketika Anna Jarvis mengadakan peringatan atas kematian ibunya di Grafton, West Virginia”. Itulah kemudian yang dilihat masyarakat umum jika di lihat dari akarnya dan menjadi trend dalam frame media nasional.
Bukan karena ku tak suka dengan peringatan itu saat ini. Sungguh kita harus merekonstruksi hari ibu bahwa kita harus senantiasa mengingat perjuangan pahlawan-pahlawan pergerakan perempuan mempertahankan bangsa ini, juga kepada perempuan pekerja yang ada di dalam dan luar negeri. Kita juga harus berterima kasih kepada perempuan yang mengusahakan kebahagiaan orang-orang yang di cintainya. Akhir dari ku juga, kita kecam kekerasan dan eksploitasi perempuan di negeri yang kita cintai ini sesuai dengan sejarah.
ahmadhidayat.com Ahmad loves to write. A rare talkative person whose love writing the most. Immunology enthusiast.

TAKABUR

Seorang budak belian yang mempunyai kedudukan terhormat dalam rentang peradaban manusia adalah Lukman al-Hakim. Dia bukan malaikat bukan pula Nabi. Namun, namanya terekam dalam...
ahmadhidayat.com
1 min read

Hidup Manusia Bagaikan Sebuah Buku

Hidup manusia bagai sebuah buku. Sampul depan adalah tanggal  kelahiran kita. Sampul belakang adalah tanggal kematian kita. Setiap lembar isi buku adalah kejadian setiap...
ahmadhidayat.com
29 sec read

Jurnalis Bohay juga SEKSI

Hey Mas? Jurnalis itu Bohay kan, apalagi yang membuatnya terkenal seksi yang pastinya mengesankan, kata si MANTAN pegiat pers di salah satu kota yang...
ahmadhidayat.com
1 min read

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *