ahmadhidayat.com Ahmad loves to write. A rare talkative person whose love writing the most. Immunology enthusiast.

Nikmat Tuhanmu mana lagi yang kau dustakan?

Tanpa tersadar aku menghentikan langkahku di sore hari yang cerah. Bukan karena aku tersandung atau ter jatuh, tetapi karena ada sesuatu melintasi pandangan. Sebetulnya itu hal yang biasa kulihat jika aku pulang dari tempat kuliahku. Mentari Sore.

Saat terindah itu kugambarkan seperti lukisan yang dengan malu – malu merundukan cahayanya, betapa indahnya. Saat itu aku tak mampu berkata apapun. Indah, sungguh indah warnanya kuning merona bercampur merah saat ia mulai tenggelam sedikit demi sedikit menghilang bergantikan cahaya rembulan nan gagah rupawan. Saat itu aku yang tak pernah memperhatikan proses bergantinya shift antara sang mentari dan sang rembulan pun tertegun. Mulai bermunculan berbagai pertanyaan dalam hati, ‘siapa yang mengatur ini semua’. Tentu saja aku sudah tahu jawabannya, Dialah Allah. Subhanallah, pujian bagi Allah  terlontar begitu saja tanpa kusadari. Tak terasa tertitikan air mata ini melihat kemegahan ciptaan-Nya. Dan membulatkan tekad untuk selalu memuji-Nya.

Setelah puas menikmati pemandangan tersebut, aku melanjutkan langkahku. Dan mataku terhenti pada seorang tua yang menengadahkan tangannya untuk meminta kesediaan kita dalam berbagi. Seorang tua itu tertunduk malu dengan topi  menutupi wajahnya. Sementara di depannya ada gelas plastik harapan. Di sampingnya tertidur anak kecil yang masih memancarkan sinar polosnya. Seketika hati ini meringis. Sekali lagi aku memuji asma-Nya. Mengucap syukur atas yang telah kudapatkan. Kulangkahkan kaki untuk memberikan beberapa rupiah yang tersisa di dompetku, tak banyak, mungkin tidak bisa terlalu banyak membantu. Saat rupiahku meluncur kedalam gelas pelastik tersebut, sang ibu tua itu mendongakkan kepalanya melihat ke arahku. Matanya berkaca, sedikit senyum simpul menghiasi bibirnya. Menghamburkan doa ke arahku. Dan aku tertegun sekali lagi. Serta merta terngiang satu ayat “Nikmat Tuhanmu yang mana lagi yang kau dustakan”

Melanjutkan perjalanan pulangku, saat henak naik di motor Suzukiku ada pengamen jalanan menyanyikan lagu bernafaskan islami. Syairnya mengungkapkan betapa rapuhnya imanku, menegurku dengan lembut betapa jauhnya aku dari-Mu. Menyadarkanku untuk memohon ampun-Mu. Selesai menyanyikan lagu itu, dia berjalan menghampiri manusia yang lain.

Sekali lagi jalanan mengajarkanku makna berbagi. Ada yang memberikan Rp. 500, Rp. 1.000, dan si Pengamen tersebut tetap ikhlas menerima dan mengucapkan terima kasih. Saat pengamen pergi, ku lihat dia tersenyum dan menengadahkan tangannya mungkin dia mengucapkan hamdallah, padahal dia belum menghitung uang hasil mengamennya tersebut.

Ketiga fenomena tersebut sering kulihat di keseharian hidupku. Mereka mengajarkan banyak hal. Bersyukur dan berbagi. Bersyukur atas nikmat yang diberi. Seberapapun hasilnya, seperti apapun usahanya selama masih di jalanNya, tetap berjuang mencari RidhoNya. Jalanan mengajarkanku berbagi. Seperti islam mengajarkanku memberi. Saat kita berbagi beberapa rupiah kita, lihat apa yang kita terima.

Hamburan doa yang akan menembus Arsy Allah. Jalanan mengajarkanku ikhlas. Ikhlas menerima pemberian. Jalanan mengajarkanku cinta. Cinta pada-Mu ya Rab. Melihat ciptaanmu, mengaggungkan kuasa-Mu. Dan menimbulkan kesadaran siapa yang memberi ini semua, Siapa yang mengajarkan ini Semua. Semua hanya kembali kepada ke Esaan Allah Yaa Rahman, yang menanamkan cinta kasih di hati kita sehingga tergerak untuk berbagi kepada sesama.

Semua kembali kepada Allahu yaa Razzaaq. Dia memberikan rezeki melalui jalan manapun. Semua akan kembali kepada Allahu yaa Muhaimin yang memelihara peredaran Semesta. Semua akan kembali kepada Allahu yaa Baasith yang maha melapangkan segala kesempitan yang kita alami.

“ Maka nikmat TuhanMu yang mana lagi yang kau Dustakan “ (QS. Arrahman)

ahmadhidayat.com Ahmad loves to write. A rare talkative person whose love writing the most. Immunology enthusiast.

Siapa Umar bin Khattab?

Suatu waktu kita menyadari bahwa ada yang salah dalam sikap dan watak kita, kita sering menyadari terkadang kita berkeras hati, egois ,kasar, dan emosional....
ahmadhidayat.com
1 min read

Be a ‘RIGHT’ Person!

Selagi manusia masih bisa bermimpi,mungkin tidak ada salahnya jika kita meluruskan mimpi itu selurus-lurusnya. Selagi manusia masih bisa menghela napas, mungkin tidak ada salahnya...
ahmadhidayat.com
46 sec read

Tonjok Hidungmu!

Alkisah dalam sebuah ruangan kecil,terkurunglah seorang pemuda. Kesehariannya hanya diisi dengan ratapan-ratapan ketika dia melihat dunia lewat jendela di ruangannya. Di jendela itu, dia...
ahmadhidayat.com
53 sec read

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *